Harga Material Naik, Pengembang Perumahan Soloraya Pangkas Margin Keuntungan

Harga Material Naik, Pengembang Perumahan Soloraya Pangkas Margin Keuntungan
Ketua REI Komisariat Soloraya , Oma Nuryanto (kedua dari kiri) memberikan keterangan tentang REI Expo 2025 saat jumpa pers di Mon Kopi Gentan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (23/5/2025).

Surabayainsight.com, SOLO — Kenaikan harga sejumlah bahan baku material bangunan mulai dirasakan dampaknya bagi pengembang perumahan di Soloraya. Kondisi ini memaksa sejumlah pengembang perumahan harus mengurangi margin demi mempertahankan pasar.

Hal itu disampaikan Ketua Real Estat Indonesia (REI) Komisariat Soloraya, Oma Nuryanto, yang mengatakan lonjakan harga paling tinggi terjadi pada material berbahan dasar plastik. Harga komponen seperti pipa bahkan tercatat juga naik.

“Pipa itu sudah naiknya 25%, cukup banyak dan sangat terasa sekali. Terus komponen yang lain seperti besi, semen, dan lainnya itu naiknya di kisaran 10% sampai 15%,” kata Oma ketika dihubungi Espos, Rabu (22/4/2026).

Oma menjelaskan situasi ini menjadi dilematis karena tren kenaikan harga material tidak dibarengi dengan daya beli masyarakat di lapangan. Ia melanjutkan para pengembang perumahan tidak berani menaikkan harga jual rumah karena pasar saat ini sangat sensitif terhadap perubahan harga.

Terlebih bagi pengembang perumahan subsidi, harga jual sudah dipatok oleh pemerintah di angka Rp166 juta. Alhasil, Oma melanjutkan demi tetap bisa berjualan di tengah kondisi yang menantang, pengembang terpaksa bertahan dengan harga lama meski biaya produksi membengkak.

“Akhirnya yang terjadi profit margin kita yang berkurang. Kita merelakan margin berkurang, tidak ada jalan lain,” tegasnya. Meski margin keuntungan tergerus, Oma memastikan para pengembang di bawah naungan REI Soloraya tidak akan mengambil risiko dengan menurunkan spesifikasi atau kualitas bangunan. 

Genjot Promosi

“Tidak berani. Standar material, seperti penggunaan genting dan pipa, tetap dipertahankan sesuai rancangan awal demi menjaga kepercayaan konsumen,” katanya.

Di sisi lain, Oma melihat situasi sulit bagi pengembang ini justru menjadi peluang emas bagi masyarakat yang ingin membeli rumah. Ia menilai saat ini adalah momentum paling tepat bagi konsumen untuk mengambil unit perumahan.

“Suku bunga KPR saat ini sedang murah-murahnya, ada yang 4%, 5%, hingga 6%. Ditambah lagi, pengembang sekarang cenderung menahan harga. Harusnya per tahun harga naik karena material naik, tapi kita tidak naikkan. Jadi ini sebenarnya kesempatan sangat bagus bagi konsumen,” urainya.

Untuk menyiasati kelesuan tersebut, Oma mendorong para pengembang agar lebih agresif memacu penjualan melalui berbagai strategi pemasaran. Ia mengatakan strategi itu seperti pemberian promo menarik seperti diskon, gratis biaya Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), hingga gratis biaya balik nama.

Selain itu, pemasaran digital melalui siaran langsung (live) di platform seperti TikTok dan Instagram juga terus digenjot. Oma juga mendorong pentingnya inovasi produk yang mampu menjawab kebutuhan gaya hidup modern.

“Inovasi produk dari pengembangnya, konsep lingkungan, dan penerapan teknologi sangat penting. Misalnya pintu menggunakan sistem smart lock seperti di hotel, pemasangan CCTV, hingga pemberian fasilitas WiFi gratis selama satu tahun. Inovasi-inovasi beda seperti inilah yang menarik minat konsumen di era sekarang,” katanya.

Leave a Reply